Kamis, 17 Januari 2013

Habibie & Ainun


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku .


Rabu, 17 Oktober 2012

Ketika engkau mencintaiku, engkau
menghormatiku. Dan ketika engkau
membenciku, engkau tidak
mendzalimiku. (Dr. Ramdhan Hafidz)
 

Aku masih ingat saat malam pertama
kita, saat itu engkau mengajakku shalat
Isya’ berjamaah. Setelah berdoa
engkau kecup keningku lalu berkata:
“Dinda, aku ingin engkau menjadi
pendampingku Dunia-Akhirat”.
Mendengar ucapan itu, akupun
menangis terharu. Malam itu engkau
menjadi sosok seperti sayyidina Ali
yang bersujud semalam suntuk karena
bersyukur mendapatkan sosok istri
seperti Siti Fatimah. Apakah begitu
berharganya aku bagimu sehingga
engkau mensyukuri kebersamaan kita?
Malam itu, aku tidak bisa
mengungkapkan rasa syukurku ini
dengan ucapan. Aku hanya bisa
mengikutimu, bersujud di atas
hamparan sajadah. Tanpa bisa aku
bendung, air mata ini tiada hentinya
mengalir karena mensyukuri anugerah
Allah yang diberikan padaku dalam
bentuk dirimu. Akupun berikrar, aku
ingin menjadi sosok seperti Siti
Fatimah, dan aku akan berusaha
menjadi istri sebagaimana yang
engkau impikan.
Dan ternyata sujud itu bukan hanya di
saat malam pertama, setiap kali aku
terbangun pada akhir sepertiga
malam, ku lihat engkau sedang
bersujud dengan penuh kekhusu’an.
Aku kadang iri dengan keshalihanmu,
engkau terlena dalam sujudmu sedang
aku berbaring di atas kasur yang
empuk dengan sejuta mimpi. Kenapa
engkau tidak membangunkan aku?
Padahal aku ingin bermakmum
padamu agar kelak aku tetap menjadi
istrimu di surga. Aku hanya merasakan
kecupan hangat melengkapi tidur
malamku saat engkau terbangun untuk
melakukan shalat malam. Apakah
kecupan itu sebagai isyarat agar aku
terbangun dari tidurku dan
melaksanakan shalat berjamaah
bersamamu? Atau karena engkau tidak
tega membangunkan aku saat engkau
melihat begitu pulasnya aku dalam
tidurku? Aku yakin, dengan ketaatanmu
pada agama, engkau akan
membahagiakanku dunia-akhirat.
Tidakkah agama kita mengajarkan
bagaimana suami harus menyayangi
istri, membuatnya bahagia, melindungi
dan membuatnya tersenyum. Dan
sebaliknya, istri harus berbakti,
melayani dan membuat suaminya
terpesona padanya.
Aku tidak peduli siapakah engkau,
miskin dan kaya tidak ada bedanya
bagiku. Aku hanya tertarik pada
sosokmu yang bersahaja dan
sederhana. Raut wajahmu yang penuh
dengan keikhlasan membuatku ingin
selalu menatapnya. Lembutnya sifatmu
membuatku yakin bahwa engkau
adalah suami yang bisa menerima
segala pemberian Tuhan dan akan
menyayangiku apa adanya. Aku tidak
peduli dengan rumah mungil dan
sederhana yang engkau
persembahkan untuk kita tempati
bersama. Rumah yang hanya terdiri
dari ruang tamu, kamar kita, dan satu
ruangan yang berisi buku-buku
terutama buku agama. Namun dari
rumah yang mungil ini, aku melihat
taman surgawi menjelma di sini. Aku
yakin engkau adalah sosok suami yang
tekun belajar dan memahami agama,
dan dengan bekal ini aku yakin engkau
bisa membimbingku untuk meraih
surga ilahi. Sebagaimana agama kita
telah mengisyaratkan bahwa, barang
siapa berjalan dijalan ilmu, maka Allah
akan mempermudah jalan menuju ke
surga.
Saat kulihat engkau begitu berbakti
kepada kedua orang tuamu dan
senang menjalin silaturahim, aku yakin
engkau akan berlaku baik pada anak-
istrimu. Aku lihat engkau jarang sekali
berbicara, tapi masya Allah kalau
sedang bekerja, engkau menjadi sosok
yang tekun dan ulet. Dan dari cara
tutur katamu, aku mendengar kata-kata
mutiara yang penuh hikmah, sehingga
yang tergambar dalam pikiranku
adalah sosok Lukmanul Hakim, sosok
suami dan ayah yang selalu mendidik
keluarganya, mengajarkan anaknya
untuk tidak menyekutukan Allah.
Sungguh aku bangga mempunyai
suami sepertimu melebihi
kebanggaanmu padaku. Aku lebih
membutuhkanmu jauh melebihi
kebutuhanmu padaku. Terima kasih
suamiku, karena engkau telah
membimbingku…

Senin, 03 September 2012

Randy Pangalila - Takkan Berpisah

saat nanti kita tak bisa
saling menyentuh, memandang wajahmu
kuatlah sayang karna mereka
berusaha menjauhkan kita
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
saat kau tak di sini
saat nanti kita tak bisa
saling menyentuh, memandang wajahmu
kuatlah sayang karna mereka
berusaha menjauhkan kita
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
saat kau tak di sini

Radio - The Radio

I Just feel The radio can stop the rain, o …
Kulihat dirimu…..

Ku dengar di radio
Kau menyanyi nada terindah
Kudengar di radio
Kau menyanyi nada untukku

I Just feel The radio can stop the rain, o …
Di dalam mataku, ku melihat rindu

I Just feel The radio can stop the rain, o …
Kulihat dirimu, kulihat dirimu

Musik :

Ku dengar di radio
Kau menyanyi nada terindah
Kudengar di radio
Kau menyanyi nada untukku

I Just feel The radio can stop the rain, o …
Di dalam mataku, ku melihat rindu

I Just feel The radio can stop the rain, o …
Kulihat dirimu, kulihat dirimu
 Augst, 16 2011

Sang malam selalu berkata
kan selalu ada senyum di hariku
senyum yang membawa paras
yang kan temani warna hidup ku

Iringan gelap malam
yang terus membawa lamunan
serta merta angan
yang terus hampiri ketenangan

Setiap malam di hidup ku
adalah malam yang panjang
karna ku takkan sendiri
indahnya bulan selalu temani

Tapi semua itu takkan pernah bisa
menghapus satu nama dalam hangat rindu
nama yang selalu indah di hatiku
nama yang takkan ada batas di mimpiku
nama yang terus dalam hariku
nama yang selalu hadirkan cinta di waktuku

Keagunganmu

Pagi ku jelajahi
Menataap sinar sang mentari
Betapa indah kuasa sang ilahi
Pencipta surya sang pagi hari
harumnya bunga bertabur wangi
Membuai indah rasa di hati
Betapa agung kuasa sang ilahi
Pencipta rasa indah sanubari
Malam berganti pagi
Pagi menjelang siang
Dan senja kembali menyapa
Tiada henti kuasanya menyapa
Membuai indah penghuni semesta
Betappa picik batin mereka
Jika tangan2nya merusak pesona sang pencipta
Merusak seluruh keindahan alam semesta
Membuang semua anugrah tuhan
Melupakan semua kenikmatan yang ada
Hanya karna keeadaan

Selasa, 28 Agustus 2012

RIP Neil Amstrong

Mantan Astronot AS, Neil Armstrong, manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan meninggal dunia. Ia meninggal di usianya yang ke-82.
Hal itu diumumkan oleh keluarga Armstrong, Sabtu.

Armstrong sebelumnya sempat menjalani operasi jantung awal bulan ini, dua hari setelah ulang tahunnya ke-82 di tanggal 5 Agustus.

Sebagai pimpinan misi Apollo 11, Armstrong menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan, tepatnya pada 20 Juli 1969. Saat menginjakkan kaki di permukaan yang berdebu itu, Armstrong mengatakan, "Ini satu langkah kecil untuk satu orang, tapi ini lompatan raksasa bagi umat manusia."

Kata-kata ini kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal dalam bahasa Inggris.

Armstrong yang saat itu berusia 38 tahun sebenarnya tidak terlalu ingin hal itu menempatkannya di puncak prestasi manusia. Dia bahkan mengaku frustasi akan banyaknya pujian yang dialamatkan padanya.

Ia pernah ditanya dalam satu kesempatan tentang bagaimana perasaannya mengetahui jejak kakinya kemungkinan akan tetap di permukaan bulan selama ribuan tahun. Lalu ia menjawab, "Aku berharap bahwa ada seseorang yang berjalan di sana suatu hari nanti dan membersihkan jejak itu," katanya. Sumber